Tenggelam Bersama Senja

Sore itu, 23 April 2025, saat semuanya dimulai. Berawal dari sebuah pertemuan singkat yang mengesankan. Saat itu lembayung senja sedang menggagalkan bumi. Matahari mulai melenyapkan eksistensinya. Seakan mengerti ini adalah waktu untuk membiarkan bulan bersama dengan bumi.

Aku terpana olehnya. Bukan, bukan kamu. Aku sama sekali tidak terpesona oleh keindahanmu. Langit yang berwarna merah  itu lebih menarik perhatianku. Bukan kamu!

Sudah hampir satu tahun lamanya, seperti orang bodoh, saya masih kembali ke tempat ini. Tempat yang selalu membawaku ke masa lalu. Tempat yang selalu membawa kenanganku tentangmu. Ini lucu dan mungkin kau akan tertawa jika aku berkata bahwa aku mendambakanmu hadir di tempat ini lagi. Mendambakanmu untuk kembali dan kita bisa membuat lebih banyak kenangan di sini. Lucu bukan? Bagaimana kalau aku mengenalkan diriku? Hai, aku adalah matahari yang sedang memamerkan cahaya indah di sore hari.

Jadi aku pergi meninggalkan rumahku untuk menuju tempat favoritku. Aku sangat menyukai pemandangan pantai kastela di sore hari. Langit berwarna merah seperti obat untukku, mampu memberikan sedikit ketenangan untuk semua masalah. Ya.. meskipun sementara.

Perjalanan ke pantai kastela dari tempat tinggal ku tidak terlalu jauh, setibanya aku di pantai kastela aku langsung beranjak menuju ke pohon paling ujung tempat favoritku. Sayangnya, tempat itu sudah ditempati oleh seseorang.

Itu tempat terbaik untuk melihat senja dengan jelas.

Aku sudah sampai disini, jadi apapun ceritanya, aku tetap harus melihat senja. Bagaimanapun, ini tempat umum. Setiap orang bebas untuk duduk di tempat favoritnya, bukan? Aku melangkahkan kakiku  kesana.

“Misi, bolehkah saya duduk disini?” tanya ku pelan

“Silahkan” jawabannya spontan

“Terimakasih” aku berterimakasih dan menutup pembahasan singkat itu

Dia tidak menunjukkan reaksi apapun, sangat dingin. Perilakunya berbeda 360 derajat dengan keindahan yang ada di dalam mataku saat ini. Aku sedikit melirik kearahnya. dia tidak terganggu dengan kehadiranku. Dia terlihat sangat dingin. Tapi, cara dia menatap kososng ke depan sungguh menyadari sesuatu.

Sepertinya dia sedang mengalami tekanan yang cukup berat. Mungkin, alasan dia untuk mengunjungi tempat ini sama dengan alasanku. Biarlah, pemandangan langit lebih menarik daripada menebak informasi tentang dia.

Tiba-tiba saja saat aku sedang menikmati senja, ia menghampiriku dengan menyodorkan tangan kanannya untuk berkenalan.

Namaku Anala, nama kamu siapa?” ucapnya dengan memberikan sedikit senyum tipis yang sempat ia sembunyikan sedari tadi

“Namaku Batara” jawabku singkat

“Nama yang indah” Anala sedang memuji sembari membersihkan dedaunan yang berserakan di atas kursi tempat ia mau duduk di sampingku.

Aku melihat rona merah menjalar di sekitar pipinya. Entah kenapa ada seulas senyum dibibirku, merasakan sesuatu yang berbeda dari dalam dirinya.

Setelah hari itu berlalu, aku dan Anala selalu mengunjungi tempat itu. Duduk bersebelahan dan mempunyai banyak bahan diskusi. Ya… kita semakin dekat dan aku merasa semakin nyaman jika berada disisinya.

Aku mengingat semua kata-kata manisnya. Senyumannya, dan semua hal yang berkaitan tentangnya menjadi kenangan indah yang terekam jelas dikepalaku. Tapi satu hal yang membuatku membencinya. Selayaknya senja pada hakikatnya, dia datang membawa keindahan, membuat seluruh dunia memujanya. namun keindahannya hanya berlangsung sementara. Saat malam tiba, semuanya berubah menjadi gelap.

“Tolong jangan mencintaiku terlalu dalam, hal itu akan menyakitimu.” Aku sekarang paham makna dari kata-katamu Merujuk pada kenyataan ini, kenyataan bahwa kau dan keindahanmu meninggalkanku lebih dulu, untuk selamanya, bukan senja.

Di sini, dipantai kastela tempat pertama kali kita berjumpa, aku masih setia menunggumu hadir. Saat matahari sore memamerkan cahayanya, aku berharap kau juga ada disana. Tersenyum merenung dan menceritakan banyak cerita. Namun, kenyataannya bayanganmu saja tak terlihat oleh kasat mata.

Aku masih disini dengan cerita yang sama dan aku merindukanmu dengan sangat setia, Anala. Aku selalu berdoa setiap langit melukiskan senjanya. Doaku adalah agar aku bisa bahagia disini, tanpamu. Dan dengan begitu, dirimu juga bisa tersenyum bahagia dari tempat kamu berada. Aku harap senja bisa menenggelamkan kerinduanku padamu.

Dan sekarang, senja sudah terlelap, bersama dengan semua tentang kita. Terimakasih telah memberiku satu pelajaran berharga. Berkatmu, aku menjadi lebih bersyukur dan menikmati momen berharga dalam hidupku. Karena aku tahu, terkadang Tuhan menciptakan sesuatu yang sangat indah, tetapi hanya berlangsung sementara. Seperti mu, bukan senja.***

 

M. Raizul Zikri Faudu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup