DPRD Kritisi Bupati Taliabu, Sebut Salsa Mus Dalang Dibalik Konflik Pj Kades Penu
Katasatu- Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, Sukardinan Budaya sesalkan sikap pemerintah daerah yang enggen menyelesaikan konflik Desa Penu, Kecamatan Taliabu Timur.
Politisi PKB ini menduga, konflik bermula dari kebijakan Bupati Pulau Taliabu, Sashabila Mus yang dengan entengnya melakukan pergantian Pj kades sebanyak empat kali dalam satu tahun.
Berdasarkan data yang dihimpun http://Katasatu.com, pergantian Pj. Kades Penu dimulai sejak awal pemerintahan Sashabila Mus. Pergantian ini dilakukan dari Radia Manompo ke Tasman La Tunda, lalu Asirudin dan yang terakhir Jhon Bugis.
Konflik mulai meledak, kata Sukardinan, ketika Pemkab Taliabu menerbitkan SK pergantian PJ Kades Penu dari Asirudin ke Jhon Bugis. Konflik itu mulai berlangsung serius hingga tiga kali dilakukan aksi oleh masyarakat setempat.
Sukardinan mengatakan, aksi yang dilakukan warga hingga tiga kali merupakan sinyal kuat bahwa aspirasi masyarakat belum mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
“Warga sudah tiga kali melakukan aksi. Kenapa sampai sekarang belum ada juga tanggapan serius dari pemerintah daerah? Yang menjadi korban kan masyarakat. Ini menunjukkan lemahnya respons pemerintah daerah,” cecarnya.
Orang nomor satu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Taliabu itu menegaskan, Pemda Pulau Taliabu tidak tidak bisa melakukan pembiaran terhadap konflik hingga berlarut-larut.
Politisi kelahiran Taliabu Timur itu juga mendesak pemerintah daerah untuk segera turun langsung ke lapangan dan mengidentifikasi akar permasalahan yang terjadi di Desa Penu.
“Pemerintah daerah harus segera turun melakukan identifikasi terhadap persoalan di Desa Penu, supaya masalah ini tidak berlarut-larut. Kasihan masyarakat, mereka yang terus dirugikan,” tegasnya.
Sukardinan juga mempertanyakan ada apa dibalik pergantian pejabat kades yang dilakukan sebanyak empat kali dalam satu tahun.
“Ada apa sehingga harus dilakukan pergantian sebanyak itu?. Saya himbaukan agar pemerintah daerah tidak tidur memperkeruh konflik yang terjadi di desa Penu,” tandasnya. (lea)














Tinggalkan Balasan