Satu Langkah Seribu Rahasia

Hembusan angin sore membuat rambut Senja menari-nari untuk menikmati suasana alam. Rambut hitam, hidung sedikit mancung dan memiliki tubuh yang mungil membuat perempuan itu terlihat manis.

“Bismillah” ucap Senja.

Dharma tersenyum

 “Yuk kita jalan, jangan sampai malam menyelimuti kita sebelum sampai di pos satu”.

Dharma adalah lelaki yang tidak mementingkan pandangan orang tentang cara berpakaiannya dan memiliki pemikiran yang membuat sebagian orang mengatakan bahwa ia adalah orang gila.

Dengan iringan langkah kaki membawa Dharma dan Senja menyusuri pohon pala, cengkeh, cokelat dan kelapa yang tersusun rapi seakan menyambut para pendaki gunung.

Dalam tengah perjalanan menuju pos 1, keringat mulai menetes. Rasa gerah dan panas mulai menyelimuti keduanya.

Dharma mengejak Senja untuk beristirahat sejenak di bawah rindangnya pohon pala. Merasa terlalu senyap dan tegang saat mendaki, Dharma mencoba membuka percakapan untuk menghapus kekakuan diantara keduanya. Ia memulai dengan bertanya pada Senja

 “Apa yang kamu cari dalam pendakian ini?”.

Senja yang baru menyandarkan tubuhnya di akar pala langsung tersenyum, mulutnya terbuka perlahan hingga menunjukkan gigi ginsulnya yang berada di sebelah kanan atas.

Hanya sebuah senyum kecil yang tercipta sebagai sebuah jawaban.

“Jika kamu tidak mau diwawancarai saat ini, maka izin aku untuk menarasikan sebuah opini singkat tentang indahnya suatu pemerintahan yang dibangun atas persetujuan kita berdua”

Dengan meniru wawancara ala jurnalis, Dharma mencoba menarik perhatian Senja agar ia bisa sejenak melupakan lelahnya dalam pendakian.

 “Gombal”

Senja menanggapi kata-kata yang di keluarkan Dharma. Masih tetap dengan senyum tipisnya.

Dharma melanjutkan kata-katanya “Sebelas tahanan Maba Sangaji diputuskan bersalah menggunakan UU MINERBA untuk bisa menjobloskan mereka ke penjara dengan berbagai macam dakwaan. Sedangkan kamu dengan satu kata, akan membuatku terpenjara dalam ruang kosong yang membuat daya kerja otakku terhenti”.

Senja yang tadinya hanya tersenyum, kini membuatnya mengeluarkan suara kecilnya.

 “Aku salting”.

Dharma terus tersenyum bahagia. Ternyata, ia bisa membuat ruang pendakian ini tidak canggung dan senyap.

“Yuk kita lanjutkan perjalanan” ajak Dharma

“Gaskan” Jawab Senja.

Mereka kembali memulai perjalanan dengan tujuan menggapai puncak Gamalama.

Dharma terus mencoret-coret ruang sunyi itu dengan kata-katanya yang membuat Senja lupa mengeluh tentang kelelahan.

Ruang yang kini terasa ramai dengan coretan-coretan Dharma, hingga membuat senja tiba – tiba melontarkan satu pertanyaan

“Apa itu cinta?”.

Dharma tidak langsung menjawab, ia hanya berbicara tentang peristiwa banjir yang melanda di Sumatera Utara.

“Beberapa hari yang lalu peristiwa banjir telah terjadi di Sumatera Utara, banjir tersebut bukan saja air yang mengalir menyusuri perumahan warga, tetapi ada juga ranting pohon bahkan batang pohon besar dari hasil penebangan liar yang dibawa air ke perkampungan dan akhirnya menghantam rumah warga hingga rusak.”

Dari cerita itu, Dharma mulai mengajak Senja untuk melihat-lihat pohon yang berada di sekelilinginya sambil menjelaskan sedikit tentang manfaat dari pohon ketika hujan.

 

“Lihat pohon-pohon itu, mereka sangat membutuhkan air. Ketika hujan besar, akar dari pohon-pohon itu yang menyerap air hujan. Maka dari itu mari kita mencintai dan nanti kita akan dicintai.” Itu bagian kecil dari jawaban atas pertanyaanmu tadi

Senja tersenyum dan membatin

“Ternyata cowokku keren”.

Keduanya terus mendaki dengan ritme kaki yang senada dan tutur sederhana hingga akhirnya mereka telah sampai di pos 1. Langit yang sudah gelap pun tidak membuat keduanya berhenti. Mereka terus bergerak hingga melewati pos 1 dan akhirnya sampai di pos 2.

“Kita istirahat dulu” Dharma mengajak Senja untuk beristirahat sebentar. Ia menyandarkan carrier-nya di tiang penanda pos 2, menarik matras dan meletakkan di tanah untuk Senja duduk sambil meluruskan kaki.

Dharma yang tidak mau menyia-nyiakan waktu langsung mengeluarkan alat masak dan bahan-bahan untuk memasak. Hidangan makan malam yang telah selesai dibuat langsung dilahap, mengisi perut yang telah lapar.

Selesai makan, waktu menunjukkan pukul 21:30 WIT. Mereka mulai mengemasi barang bawaan dan bersiap untuk memulai perjalanan lagi.

Dengan irama langkah kaki yang masih sama, saling melempar humor, pun cerita-cerita fiksi yang kerap mewarnai ruang dalam perjalanan itu hingga tak terasa pos 3 dan pos 4 telah dilewati.

Tiba di pos 5

“Pintu suba?” Tanya Senja pada Dharma.

“Iya” Jawab Dharma.

Melangkah maju, Dharma kembali berceloteh

 “Setelah ini, teriaklah semaumu, kita sedang membuat ‘pemerintahan’  kita berdua dan tidak ada yang bisa menghentikan suaramu. Ini bukan pemerintahan mereka, yang dibuat berdasarkan politik praktis, mengesampingkan konstitusi tertinggi dan membatasi suara-suara yang membantah.”

 Senja tersenyum manja dan berkata “Gila tak masuk logika”

“Penggalan lirik lagu Mangu itu membuat aku berpikir bahwa perkataan orang-orang tentang pemikiranmu yang gila itu tidak benar.”

Dharma hanya tersenyum

“Yuk kita jalan lagi, nanti kita dirikan tenda didepan sana” Kembali Dharma mengajak Senja untuk terus mendaki

Sekarang, kano-kanolah yang menyambut para pendaki. Setelah mendapatkan tempat yang nyaman, Dharma mulai mengeluarkan tendum dari carrier-nya dan langsung mendirikan dua tenda untuk dia dan Senja.

Malam telah menunjukkan pukul 01:20 WIT. Dharma telah membuat secangkir cokelat hangat untuk Senja dan secangkir kopi hangat untuk dirinya. Sruput kopi pertama, lalu Dharma menceritakan fenomena lucu yang pernah ia tonton di sosmed kepada Senja.

“Waktu itu aku sempat melihat seorang sarjana hukum yang berteriak dengan corong tentang kasus hukum. Namun anehnya, kata-kata yang dikeluarkan tidak memiliki landasan hukum, hanya tentang kemanusiaan.”

Senja mulai tersenyum, lalu ia menanggapi

“Mungkin belum ada aturan yang mengatur tentang kasus tersebut.”

Dharma kembali berkata “Mahasiswa sekarang buku dijadikan pajangan hanya untuk dipamerkan. Akhirnya pada saat selesai wisuda dan terjadi peristiwa seperti tadi, tidak mengetahui aturan mana yang harus dipakai. Jika hanya memakai alasan kemanusian, anak kecil juga bisa.”

“Sudalah, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 02:50 WIT. Yuk masuk tidur”  Senja memotong.

Dharma setuju. Mereka lalu membereskan alat masak dan langsung masuk ke dalam tenda masing-masing.

Reslatinpun ditarik, dengan perlahan pintu tenda dua pendaki itu tertutup dengan rapat.  ***

 

Panigfat. A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup