Jeritan di Tengah Kobaran Api: Warga Bertaruh Nyawa, Bupati Taliabu Hidup Enak di Jakarta
Katasatu- Suasana mencekam menyelimuti sejumlah desa di Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara, ketika kobaran api raksasa melahap perkebunan produktif warga.
Di tengah kepulan asap hitam yang membubung tinggi, terdengar jeritan histeris dari warga yang berlarian berusaha memadamkan api. Dengan peralatan seadanya, kaum pria, wanita, hingga remaja bertaruh nyawa mengepung api guna memastikan api tidak menyebar melahap hasil perkebunan warga.
Namun, di saat rakyatnya sedang berjuang hidup dan mati melawan amukan si jago merah, sang pemimpin daerah, Bupati Pulau Taliabu, Salsabila Mus justru sedang berada jauh dari lokasi kejadian. Berdasarkan informasi, sang bupati menikmati hidup nyaman di ibu kota negara, Jakarta.
Kebakaran yang terjadi sejak Minggu, 4 Oktober 2026 lalu hingga hari ini apa belum berhasil dipadamkan, bahkan kian meluas.
Titik api berada Kawasan perkebunan cengkeh warga Desa Salati, Desa Onomay dan Desa Nggele, Kecamatan Taliabu Barat Laut dan di Desa Tikong serta Desa Nunu, Kecamatan Taliabu Utara, Kabupaten Pulau Taliabu. Kebakaran ini sudah menghanguskan puluhan ribu pohon cengkeh yang siap panen.
Ironisnya, minimnya fasilitas pemadam kebakaran (Damkar) yang memadai di wilayah tersebut memaksa warga menggunakan cara tradisional, yakni dengan membawa air dengan alat seandanya atau membersihkan batas-batas kebun sehinnga api tidak menjalar, hanya saja upaya tersebut hanya sekedar menunda.
“Membersihkan batas kebun ini hanya salah satu acara agar api tidak masuk, hanya saja setelah kami istirahat malam dan kembali ke kebun tanaman kami sudah hangus terbakar kembali,” ungkap seorang warga saat ditemui di lapangan, Rabu (07/10/2026).
Namun, di tengah kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat, Bupati Pulau Taliabu, Salsabila Mus memilih tinggal di Jakarta dan membiarkan warganya berjibaku dengan panasnya si jago merah.
Ketidakhadiran orang nomor satu di Pulau Taliabu ini memicu gelombang kritik pedas dari masyarakat dan sejumlah organisasi kepemudaan setempat. Warga merasa ditinggalkan di tengah bencana yang mengancam kesehatan serta keselamatan mereka.
“Saat ini Taliabu sedang dikepung si jago merah. Kabut asap ada di mana-mana, masyarakat sesak napas, dan petani merugi karena lahan mereka terbakar. Sangat disayangkan Bupati justru memilih ‘ngadem’ di Jakarta ketimbang memimpin langsung penanggulangan bencana di daerah,” cecarnya.
Ketidakhadiran Bupati Taliabu di tengah bencana ini dinilai sebagai bentuk ketidakpedulian seorang pemimpin terhadap nasib rakyatnya.
“Sangat ironis. Rakyatnya menjerit di tengah kobaran api, bertaruh nyawa menyelamatkan apa yang tersisa, sementara Bupatinya justru terkesan ‘nyantai’ di Jakarta. Ini menunjukkan lemahnya empati dan fungsi kontrol kedaruratan dari pimpinan daerah,” kesalnya.
Ketiadaan koordinasi terpusat dari kepala daerah dinilai memperlambat proses evakuasi dan penyaluran bantuan logistik bagi wilayah-wilayah terdampak parah. Masyarakat mendesak agar Bupati segera menyudahi agenda di luar daerah dan kembali ke Taliabu untuk menyelesaikan krisis ini.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Pulau Taliabu belum memberikan keterangan resmi terkait agenda pasti keberangkatan Bupati ke Jakarta maupun langkah strategis konkret untuk mengatasi kebakaran yang kian meluas. (sin)















Tinggalkan Balasan