Menggugat Modernitas yang Meminggirkan Tradisi dan Spiritualitas

Pembaharuan selalu menjadi kata kunci dan solusi dalam perjalanan peradaban manusia. Setiap zaman memiliki cerita (sejarah) dalam menghadirkan identitas baru dan tatanan sosial yang lebih maju dibanding masa sebelumnya. Namun, kemajuan yang kita puja dan harapkan ternyata membawa dampak atau risiko yang sering luput dari kesadaran bersama, peminggiran tradisi dan spiritualitas.

Dalam sejarah modernitas, kemajuan kerap dimaknai sebagai proses meninggalkan budaya dan nilai-nilai terdahulu (lama), seolah-olah yang tradisional merupakan beban masa lalu yang menghambat percepatan zaman. Cara pandang inilah yang diam-diam menggerus akar kebudayaan dan membentuk krisis baru bagi manusia.

Modernitas yang lahir dari pengalaman historis barat dibangun atas kemenangan rasionalisme instrumental yang menempatkan akal manusia sebagai pusat kebenaran. Sejak abad ke-18, agama dan tradisi yang pernah menjadi tiang penyangga masyarakat perlahan dipinggirkan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi (sains) menjadi ukuran kemajuan, sementara spiritualitas dianggap hambatan bagi perkembangan. Narasi ini kemudian diekspor ke berbagai penjuru dunia melalui kolonialisme, yang tidak hanya merampas sumber daya alam, tetapi juga merombak cara pandang masyarakat terhadap dirinya sendiri.

Ali Syariati dengan tajam menilai bahwa kolonialisme modern bekerja bukan hanya melalui senjata, tetapi juga melalui budaya. Menurutnya, serangan universal kolonialisme menjadikan agama sebagai rintangan terbesar bagi penyebaran budaya dan politik kolonial.

Ironisnya, sebagian umat Muslim justru bangga mengadopsi pola hidup dan pandangan modernisme yang ekstrem, terutama dalam bentuk konsumerisme (Kepuasan diri) yang memuja simbol-simbol kemajuan Barat. Mereka mengingkari tradisi sendiri demi dianggap modern, sehingga tanpa sadar menyerahkan nasib dan martabatnya pada standar pihak lain.

Syariati bahkan menyebut kaum intelektual Muslim sebagai pihak yang mempercepat penetrasi modernitas Barat. Mereka mengajarkan dan mempromosikan nilai-nilai Barat ke dalam masyarakat sendiri tanpa sikap kritis, dampaknya terhadap akar budaya lokal.

Kritik ini sejalan dengan pandangan William Chittick yang menyesalkan hilangnya tradisi intelektual Islam. Menurutnya, banyak intelektual Muslim hari ini yang lebih sibuk membela sains modern dengan bersandar pada “konsensus saintifik” seolah itu satu-satunya sikap rasional yang sah.

Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam pernah memimpin dunia tidak hanya dalam penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam membentuk masyarakat yang memadukan dimensi material dan spiritual. Prinsip tauhid menjadi pusat pandangan dunia Islam yang memandu hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Bagi para pemikir Islam klasik, sains dan teknologi bukanlah ancaman bagi agama, melainkan sarana untuk memelihara kesejahteraan hidup yang dibingkai etika dan spiritualitas.

Jan Ahmadi menegaskan bahwa budaya adalah hasil perkembangan pikiran manusia yang mencakup ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, etika, hukum, adat, dan spiritualitas. Oleh karena itu, budaya tidak bisa direduksi hanya menjadi alat produksi atau konsumsi material. Inilah yang membedakan peradaban Islam yang berakar pada pandangan dunia tauhid dengan peradaban modern Barat yang cenderung memisahkan rasionalitas dari spiritualitas.

Sayangnya, saintisme memiliki pandangan yang menganggap pengetahuan ilmiah sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan setelah itu, menjadi dogma baru bagi modernitas. Alam diperlakukan semata sebagai objek eksploitasi demi pertumbuhan ekonomi, manusia direduksi menjadi komoditas dalam sistem produksi industri, dan pendidikan diarahkan hanya untuk memenuhi tuntutan pasar kerja. Krisis ekologi, ketimpangan sosial, dan keterasingan manusia dari dirinya sendiri yang kita saksikan hari ini merupakan buah dari cara pandang yang meminggirkan etika dan spiritualitas.

Dominasi saintisme juga terlihat dalam sistem pendidikan modern yang diwarisi oleh banyak negara Muslim. Ali Syariati mengkritik universitas-universitas di negeri Muslim yang lahir dengan “membelakangi kebudayaan sendiri dan menghadap ke Barat.” Pendidikan tidak lagi berfungsi sebagai sarana pembebasan intelektual dan pembentukan watak manusia beradab, melainkan menjadi instrumen reproduksi pengetahuan Barat yang kerap terlepas dari konteks budaya dan kebutuhan masyarakat setempat.

Padahal, jika kita menengok kembali ke sejarah Islam, tradisi intelektual Islam berkembang dalam semangat integrasi antara sains dan etika. Ilmuwan seperti Ibn Sina, Al-Farabi, dan Al-Biruni memandang pengetahuan bukan hanya sebagai alat untuk menguasai alam, tetapi juga sebagai jalan untuk mengenal Sang Pencipta. Sains dan spiritualitas tidak dipertentangkan, tetapi saling melengkapi dalam membentuk peradaban yang harmonis.

Kesadaran ini penting dihidupkan kembali di tengah dunia modern yang sering kali membuat kiata terjebak dalam paradigma reduksionis. Pembaharuan sejati tidak berarti meninggalkan tradisi, tetapi justru menggali kebijaksanaan tradisi untuk memperkaya sains dan teknologi dengan dimensi etika dan spiritual. Modernitas perlu diarahkan kembali ke jalur yang selaras dengan nilai-nilai budaya dan spiritualitas yang menjadi akar peradaban.

Kita tidak bisa menolak modernitas dan kemajuan teknologi, sebab keduanya adalah bagian dari dinamika sejarah dan kebutuhan manusia. Namun, kita harus menundukkan modernitas agar tetap berada dalam kerangka nilai-nilai luhur yang menjaga martabat manusia dan kelestarian alam. Kemajuan teknologi harus menjadi sarana bagi kemaslahatan, bukan tujuan akhir yang mengorbankan kemanusiaan dan lingkungan.

Pendidikan perlu dikembalikan ke fungsi aslinya sebagai sarana pembentukan manusia beradab. Kita perlu merancang sistem pendidikan yang mengintegrasikan kecerdasan rasional dengan kepekaan etis dan kedalaman spiritual. Hanya dengan cara ini, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cakap menguasai teknologi, tetapi juga bijak dalam memanfaatkannya untuk kebaikan bersama.

Krisis modernitas yang kita alami hari ini, bukan sekadar masalah teknis, tetapi krisis pandangan dunia. Kita telah terlalu lama mengagungkan rasionalitas instrumental tanpa memperhatikan fondasi etis dan spiritual yang menopang peradaban. Untuk keluar dari krisis ini, kita harus berani menggugat modernitas yang meminggirkan tradisi dan spiritualitas, serta membangun kembali paradigma pembangunan dan pendidikan yang berakar pada identitas budaya dan nilai-nilai agama.

Modernitas yang berkeadaban bukanlah proyek agar kembali ke masa lalu, tetapi upaya kreatif menggabungkan akal budi, sains, dan nilai-nilai spiritual dalam merespons tantangan zaman. Kita perlu menata ulang relasi antara manusia, alam, dan teknologi agar selaras dengan cita-cita kemanusiaan yang lebih utuh. Tanpa itu, modernitas akan terus menjadi arus penaklukan budaya yang mengasingkan manusia dari dirinya sendiri dan dari tanah tempat ia berpijak dan hidup.

Masa depan peradaban manusia bergantung pada kemampuan kita untuk menempatkan kembali tradisi dan spiritualitas dalam pusat pembangunan. Modernitas yang dibimbing oleh nilai-nilai luhur akan menjadi sumber pencerahan bagi umat manusia, bukan ancaman bagi keberlanjutan hidup. Sudah saatnya kita berhenti menjadi peniru buta modernitas Barat dan mulai merumuskan pembaharuan yang lahir dari kearifan budaya dan pandangan dunia kita sendiri.***

Muhammad Wahyudin

Mahasiswa Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan FKIP Unkhair Ternate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup