Media Sosial: Bumerang Diri dan Lingkungan
Media Sosial adalah sebuah reformasi besar-besaran yang dialami dalam sejarah komunikasi manusia. Bayangkan saja, dari awal komunikasi muncul hanya sekedar tatap muka, surat-menyurat sekarang sudah bertransformasi dan memungkinkan komunikasi dengan jutaan orang bahkan miliaran orang, dalam hitungan detik.
Di Indonesia sendiri menjadi negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia. Kemudahan mengakses ini dapat menjadi sebuah peluang dalam peningkatan ekonomi serta kesejahteraan sosial
Sayangnya, seiring berjalannya waktu, kilau ini mulai memudar. Kenyataan pahit yang dihadapi kita sekarang ialah para pengguna yang seenaknya menggunakan platform tersebut. Media ini juga sering kali kita jumpai bersama digunakan dengan tidak wajar yakni penyebaran hoax, penipuan, dan serupanya ini dapat mengubah sebuah ketenteraman menjadi sebuah bumerang yang menyerang balik penggunanya.
Platform-platform ini akhirnya memunculkan wajah barunya sehingga menggancam kesehatan mental kita dan lingkungan sekitar kita.
Di kehidupan pribadi kita, media sosial sudah tidak lagi murni sebagai alat penghubung melainkan kawasan yang penuh perbandingan dan drama yang merusak. Ini terjadi karena platform-platform tersebut memang sengaja dibuat untuk mengutamakan ketertiban (engagement) dari pada kesejahteraan pengunanya.
Setiap bunyi yang terdengar di indra pendengaran, setiap suka/like yang muncul adalah sebuah suntikan dopamine yang membuat kita kecanduan dan susah untuk berpaling hingga media digital menjadi proritas utama sebagian pengguna. Media ini membuat kita dipaksa untuk terus manampakkan versi yang mana kebalikan dari kenyataan diri kita, demi validasi orang orang lain terhadap kita. Sadar atau tidak media yang awalnya diperdayakan oleh kita justru sebaliknya.
Yang lebih dahsyatnya lagi, perburuan citra diri yang sempurna ini justru melahirkan kecemasan sosial yang mana fomo terhadap hal-hal baru. Kita jadi yakin bahwa kebahagian sejati selalu ada di layar orang lain. Akhirnya, semakin kita dimasukkan kke dalam ruang gema digital dimana keyakinan kita sendiri terus diperkuat tanpa pernah dibantah.
Mari kita akui, media sosial memang menawarkan kemajuan luar biasa. Tapi coba pikir-pikir ulang, harga yang harus kita bayar jauh lebih besar dari itu yakni data-data pribadi yang mana sangat privasi untuk diketahui orang bahkan dipertontonkan dan di perjual belikan. Fenomena ini mejadikan kita bukan lagi pedagang tetapi di jual.
Selain itu kecanduan notifikasi membuat kita kehilangan focus. Otak kita terbiasa dengan rangsangan cepat, ini membuat kita kesulitan melakukan pekerjaan yang membutuhkan kosentrasi tinggi. Produktivitas pun menurun sehingga mengakibatkan kita gampang terdistraksi.
Dampak media sosial yang lainnya juga pada psikolog kita, Ia mendorong gaya hidup kita menjadi lebih rakus, Hasrat kita untuk hidup dengan berbagai gaya fasion atau hidup mewah yanga mana semua itu tidak dibutuhkan seharusnya hanya karena haus validasi receh dari orang lain. Inilah yang pada akhirnya memicu banyaknya kasus gangguan kejiwaan atau hilangnya kewarasan kita.
Media sosial memang menawarkan kemajuan, namun kita harus jujur mengakui; ia telah menjadi bumerang bagi diri dan lingkungan sekitar kita. Mari bersama kita bijak dalam bermedia agar dapat menyelamatkan orang-orang terdekat serta diri sendiri.***
Rahmafita Soamole
(Mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Penyiran Islam Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dan Kabid Kajian Sahabat Nulis)













Tinggalkan Balasan