Izzuddin Alqassam Dorong Wirausaha Baru di Halsel, Tekankan Akses Modal dan Pasar
Katasatu – Anggota Komisi VII DPR RI Daerah Pemilihan Maluku Utara, Izzuddin Alqassam Kasuba, mendorong pengembangan wirausaha baru di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) melalui program aspirasi DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Perindustrian.
Dorongan tersebut disampaikan Izzuddin dalam seminar bertajuk “Penumbuhan dan Pengembangan Wira Usaha Baru (WUB) Industri Kecil di Kabupaten Halmahera Selatan” yang melibatkan ratusan peserta di Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan, Selasa (11/8/2026).
Izzuddin mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong lahirnya sumber daya manusia yang mampu berwirausaha sekaligus mengembangkan pelaku usaha kecil agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Menurutnya, pengembangan usaha tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan atau membuka usaha baru. Para pelaku usaha juga harus memahami aspek legalitas, akses permodalan, produksi, hingga strategi pemasaran.
“Jangan cuma usaha dibuka terus. Perjalanan ini harus diikuti sesuai dengan perizinan, kemudian akses permodalan, dan bagaimana promosi serta pasar yang bagus,” ujarnya.
Izzuddin menyebut, kegiatan pengembangan wirausaha baru tersebut merupakan kali kedua dilaksanakan di Halmahera Selatan. Menurutnya, kegiatan serupa masih membutuhkan keberlanjutan karena jumlah penduduk dan potensi pelaku usaha di Halsel cukup besar.
“Ini sudah kedua kalinya di Halmahera Selatan. Tentunya tidak cukup hanya satu atau dua kali untuk kegiatan seperti ini. Kita membutuhkan mungkin tiga sampai empat kali kegiatan agar pembinaan dan pengembangan usaha benar-benar berkelanjutan,” katanya.
Dalam kegiatan kali ini, terdapat tiga kelompok bidang usaha yang menjadi sasaran pembinaan, yakni pengolahan pangan berupa pembuatan roti, industri batik, serta usaha perbengkelan.
Para peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga akan memperoleh dukungan berupa peralatan usaha yang diharapkan dapat menunjang kegiatan produksi.
“Kita berharap alat-alat yang diberikan bisa dimanfaatkan dengan baik dan dijaga, sehingga dapat menopang kegiatan produksi dan perkembangan usaha mereka,” tutur Izzuddin.
Dorong Batik Bacan Jadi Produk Khas Halsel
Salah satu sektor yang mendapat perhatian adalah industri kreatif, khususnya batik. Izzuddin mendorong agar pengembangan batik di Halsel diarahkan untuk menghasilkan produk khas daerah yang dapat menjadi buah tangan bagi masyarakat maupun wisatawan.
“Batik Bacan adalah salah satu contoh produk ekonomi kreatif yang memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh,” ucapnya.
Menurutnya, pengembangan tersebut membutuhkan penambahan sumber daya manusia baru agar industri batik lokal tidak hanya bertumpu pada pelaku usaha yang sudah ada.
“Kita coba bagaimana pengembangan pengusaha-pengusaha batik, supaya ada SDM-SDM baru yang bisa terjun di situ. Kita berharap ada Batik Bacan yang khas dan bisa menjadi oleh-oleh dari Halmahera Selatan,” jelasnya.
Selain sektor batik dan pengolahan pangan, bidang perbengkelan juga menjadi bagian dari program. Peserta akan mendapatkan pelatihan serta dukungan peralatan untuk menunjang kegiatan usaha.
Akses Modal Jadi Tantangan Pelaku UMKM
Izzuddin juga menyoroti sejumlah kendala yang selama ini dihadapi masyarakat ketika hendak memulai maupun mengembangkan usaha. Dua persoalan utama yang sering muncul, kata dia, adalah akses pasar dan permodalan.
Karena itu, kegiatan tersebut turut menghadirkan pihak perbankan untuk memberikan pemahaman mengenai akses pembiayaan bagi pelaku usaha, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Ia menyebut salah satu skema pembiayaan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut memberikan peluang bagi pelaku usaha memperoleh pinjaman dalam nominal tertentu tanpa agunan, dengan tetap mengikuti persyaratan dan mekanisme yang ditetapkan pihak perbankan.
“Peluangnya besar, terutama bagi pengusaha baru. Tetapi tentu harus sesuai mekanisme, seperti memiliki NIB dan memperhatikan riwayat kredit bagi yang pernah mendapatkan pinjaman,” katanya.
Izzuddin menilai, pemahaman terhadap akses pembiayaan tersebut penting agar pelaku usaha tidak hanya memiliki produk, tetapi juga mampu mengembangkan skala usahanya.
Program Diharapkan Berkelanjutan
Izzuddin menegaskan, pembinaan tidak berhenti setelah seminar dan pelatihan selesai. Ia berharap Kementerian Perindustrian bersama pihak terkait dapat terus melakukan pemantauan terhadap kelompok usaha yang telah mendapatkan pembinaan.
Ia mencontohkan kelompok usaha pengolahan hasil laut yang sebelumnya mendapatkan pembinaan melalui program serupa. Salah satunya adalah kelompok Putri Bajo, yang menurutnya telah menunjukkan perkembangan positif.
“Kalau tahun lalu sudah ada kelompok usaha pengolahan hasil laut, seperti Putri Bajo dan lainnya. Itu harus terus didorong dan diberikan semangat untuk beraktivitas dan berwirausaha,” ujarnya.
Menurut Izzuddin, keberhasilan kelompok usaha yang telah berkembang menjadi bukti bahwa program pembinaan dapat memberikan dampak apabila dilakukan secara konsisten dan disertai pendampingan.
Ia juga menyampaikan adanya rencana dukungan dari sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BRI kepada kelompok usaha Putri Bajo berupa bantuan peralatan.
“Kemungkinan akhir bulan ini atau bulan depan akan ada penyerahan alat-alat untuk kelompok Putri Bajo melalui CSR BRI,” ungkapnya.
Izzuddin berharap program aspirasi DPR RI yang melekat pada kemitraan Komisi VII dengan Kementerian Perindustrian tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat pelaku industri kecil di Halsel, sekaligus mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha muda baru di daerah. (RI/Red)















Tinggalkan Balasan