Memoar Api Islam dalam Menegakkan NKRI

Sadam Hardi, S.Pd.

Oleh: Sadam Hardi

Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 Tahun 2026, marilah kita kembali menghayati perjalanan sejarah Islam di bumi Ibu Pertiwi. Dalam pandangan penulis, Islam merupakan salah satu embrio penting sekaligus kekuatan yang turut berperan dalam lahir dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kehadiran Islam di Nusantara diyakini telah dimulai sejak abad ke-7 Masehi. Namun, menurut sejumlah pandangan, bagian dari sejarah tersebut belum sepenuhnya memperoleh porsi yang memadai dalam penulisan sejarah nasional. Kondisi ini dipandang sebagai bagian dari upaya menggeser eksistensi sejarah Islam di Indonesia yang berakar pada politik imperialisme.

Salah satu bukti mengenai masuknya Islam ke Nusantara pada abad ke-7 Masehi ditunjukkan melalui catatan Tiongkok pada masa Dinasti Tang. Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa sekitar tahun 674 M, di pesisir barat Sumatra telah terdapat sebuah perkampungan bernama Barus atau Fansur yang dihuni oleh para pedagang Arab beragama Islam.

Keterangan tersebut juga diperkuat oleh hubungan dagang antara para pedagang Muslim dari Arab dan Persia dengan Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Sejak kedatangannya pada abad ke-7 Masehi, Islam berkembang melalui dakwah yang damai. Meskipun Rasulullah SAW telah wafat sekitar satu abad sebelumnya, ajaran Islam terus menyebar hingga menjangkau berbagai kawasan, mulai dari Eropa hingga Nusantara. Pengaruh Islam kemudian berkembang dari Sabang sampai Merauke, ditandai dengan lahirnya berbagai kesultanan di wilayah Nusantara.

Kehadiran Islam di Nusantara kemudian melahirkan peradaban baru. Dari rahim peradaban tersebut lahir para ulama, cendekiawan, dan pembaru yang kelak menjadi bagian penting dalam proses terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kehidupan umat Islam bersama pemeluk agama lain, seperti Hindu dan Buddha, pada masa itu berlangsung relatif damai. Namun, situasi berubah ketika bangsa Portugis dan Spanyol datang pada abad ke-16, disusul Belanda dan Inggris pada abad ke-17. Masa tersebut menjadi awal penderitaan masyarakat pribumi akibat penjajahan. Dalam kondisi itu, peran ulama dan santri tidak lagi terbatas pada bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga memimpin berbagai perlawanan terhadap kekuatan imperialis Barat.

Sejarah mencatat bahwa berbagai gerakan perlawanan terhadap penjajah kemudian dipandang sebagai bagian dari gerakan nasionalisme. Dalam konteks Indonesia, Islam menjadi salah satu simbol perjuangan melawan imperialisme sekaligus wujud kecintaan terhadap agama, bangsa, dan tanah air.

Awal ekspansi kolonial Barat berkaitan dengan Perjanjian Tordesillas pada tahun 1494. Perjanjian yang diprakarsai oleh Paus Alexander VI tersebut mempertemukan Kerajaan Spanyol dan Portugis untuk membagi wilayah ekspansi dunia ke dalam kawasan barat dan timur.

Perjanjian itu merupakan jalan keluar atas persaingan panjang antara dua kerajaan besar yang sama-sama berambisi menguasai dunia.

Dalam buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara (2016), dijelaskan bahwa kedatangan bangsa Barat ke Indonesia tidak hanya bertujuan memperluas wilayah jajahan, tetapi juga membawa Mission Sacred atau misi suci penyebaran agama, sekaligus membawa konflik keagamaan yang sebelumnya berkembang di Eropa ke Nusantara.

Akibatnya, Islam berhadapan dengan kekuatan kolonial tersebut. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah (2016), terjadilah pertarungan antara Katolik, Protestan, dan Islam, sehingga Islam berkembang menjadi simbol nasionalisme dalam menghadapi kolonialisme.

Melalui kebijakan Tanam Paksa, kekuatan ekonomi para ulama dan masyarakat pribumi dilemahkan. Kendali perdagangan dialihkan kepada kelompok yang disebut Oosterlingen atau Bangsa Timur Asing, seperti Tionghoa, India, dan Arab. Para petani dipaksa bekerja di atas tanah mereka sendiri dengan berbagai bentuk penindasan. Keuntungan dari sistem Tanam Paksa kemudian dimanfaatkan pemerintah kolonial untuk memperkuat kekuasaan mereka di Nusantara.

Memasuki abad ke-20, perjuangan melawan penjajahan Belanda semakin menguat. Proses tersebut dipercepat oleh pecahnya Perang Asia Timur Raya (1941–1945), yang merupakan bagian dari Perang Dunia II (1939–1945).

Pada 8 Maret 1942, Belanda menyerahkan Indonesia kepada Bala Tentara Jepang. Masa pendudukan Jepang berlangsung singkat. Setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945, Jepang akhirnya menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945.

Kiprah dan perjuangan para ulama, yang dilakukan dengan segenap jiwa dan raga, menjadi benteng pertahanan Nusantara dalam menghadapi ambisi imperialisme. Perjuangan tersebut menjadi bagian penting menuju lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia.

Penderitaan panjang akibat penjajahan kemudian melahirkan kesadaran nasional. Gerakan kebangsaan dimotori oleh tokoh-tokoh Islam, para ulama, dan para sultan. Perjuangan tersebut kemudian diteruskan melalui lahirnya organisasi-organisasi Islam, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Sarekat Dagang Islam, dan berbagai organisasi lainnya yang turut berperan dalam mengusir penjajah serta mendorong terwujudnya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, bangsa Indonesia akhirnya memperoleh kemerdekaan dan terbebas dari berbagai bentuk penjajahan, baik oleh imperialisme Barat maupun pendudukan Jepang.

Puncak perjuangan panjang yang dimulai sejak masa Wali Sanga, kemudian dilanjutkan oleh para ulama dan santri dalam menghadapi imperialisme Barat setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511 sebagai konsekuensi dari Perjanjian Tordesillas (1494), akhirnya mencapai hasil dengan lahirnya Indonesia merdeka. Penjajahan tersebut dikenal membawa semboyan Gold, Gospel, and Glory.

Berkat perjuangan para ulama yang dilakukan secara berkesinambungan dan istiqamah, berakhirlah penjajahan Barat maupun Timur. Pada 9 Ramadan 1364 Hijriah atau 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan puncak dari rangkaian perjuangan panjang yang melibatkan banyak tokoh bangsa, di antaranya Sultan Agung Hanyokrokusumo, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Sultan Baabullah, Sultan Nuku, H.O.S. Tjokroaminoto, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Sri Sultan Hamengkubuwono, Cut Nyak Meutia, Mohammad Natsir, Soekarno, Mohammad Hatta, Panglima Besar Jenderal Soedirman, serta banyak tokoh lainnya yang memberikan kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Di samping tokoh-tokoh besar tersebut, masih banyak para mujahid, ulama, santri, dan pejuang bangsa yang gugur di medan perjuangan demi mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski nama-nama mereka tidak seluruhnya tercatat dalam lembaran sejarah, jasa dan pengorbanan mereka tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup