Harga Barito di Labuha Melonjak, Kemarau Panjang Tekan Daya Beli Warga
Katasatu – Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok berupa cabai, tomat, dan bawang (barito) di Pasar Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara, mengalami kenaikan signifikan. Pedagang menyebut lonjakan harga dipengaruhi kemarau panjang yang berdampak pada pasokan dan produksi komoditas pertanian.
Berdasarkan keterangan pedagang, harga cabai keriting kini mencapai Rp140 ribu per kilogram (kg), naik dua kali lipat dari sebelumnya Rp70 ribu per kg.
Kenaikan lebih tinggi terjadi pada cabai nona. Komoditas tersebut kini dijual Rp170 ribu per kg, dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp80 ribu per kg.
Sementara itu, harga tomat naik menjadi Rp25 ribu per kg dari sebelumnya Rp10 ribu per kg. Harga bawang putih juga meningkat dari Rp50 ribu menjadi Rp60 ribu per kg. Adapun harga bawang merah relatif stabil, yakni masih berada di angka Rp60 ribu per kg.
Para pedagang mengatakan, kondisi cuaca yang masih didominasi kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan sejumlah komoditas di pasar. Kondisi tersebut turut berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.
Kenaikan harga barito juga mulai dirasakan masyarakat. Daya beli konsumen disebut menurun karena sebagian warga harus mengurangi jumlah pembelian atau memilih komoditas yang harganya lebih terjangkau.
Salah satu pembeli, Rina, mengaku kenaikan harga cabai dan tomat cukup membebani pengeluaran rumah tangga.
“Sekarang harga cabai sudah tinggi sekali. Biasanya beli satu kilogram, sekarang paling beli seperempat atau setengah kilogram saja. Tomat juga naik, jadi harus menyesuaikan dengan uang yang ada,” kata Rina saat ditemui di Pasar Labuha, Kamis (17/9/2026) sore.
Menurut Rina, kenaikan harga bahan kebutuhan dapur membuat masyarakat harus lebih selektif dalam berbelanja. Ia berharap harga komoditas tersebut dapat kembali normal sehingga tidak semakin membebani masyarakat.
“Kalau harga terus naik, tentu masyarakat yang paling terasa. Kami berharap ada perhatian pemerintah supaya harga bisa kembali stabil,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kemarau tidak hanya berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air, tetapi juga mulai terasa pada rantai pasok pangan dan pengeluaran rumah tangga.
Masyarakat kini harus mengatur ulang belanja kebutuhan dapur di tengah kenaikan sejumlah komoditas utama, sementara pedagang menghadapi tantangan menjaga ketersediaan barang dengan harga yang tetap terjangkau. (RI/Red)















Tinggalkan Balasan