Bupati Halsel Tekankan Pengelolaan Berkelanjutan dalam Simposium Perikanan
Katasatu – Bupati Halmahera Selatan menegaskan pentingnya pengelolaan potensi kelautan dan perikanan secara berkelanjutan saat membuka kegiatan Simposium Perikanan dan Kelautan Halmahera Selatan dengan tema “Sinergi Kampung Nelayan Merah Putih, Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil”, yang berlangsung di Aula Kantor Bupati, Jumat (10/4/2026).
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan bahwa Halmahera Selatan memiliki kekayaan alam yang sangat besar, namun hingga kini belum sepenuhnya dioptimalkan secara maksimal. Ia menilai, selama ini pertumbuhan ekonomi daerah masih sangat bergantung pada sektor ekstraktif yang sifatnya terbatas dan tidak dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh generasi mendatang.
“Indikator utama pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Halmahera Selatan saat ini masih bertumpu pada sektor ekstraktif. Namun sumber daya tersebut tidak selamanya tersedia. Pada waktunya akan habis dan tidak mungkin bisa dinikmati oleh generasi kita selanjutnya,” ujar Bupati.
Menurutnya, Halmahera Selatan memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar, bahkan masih dalam kondisi yang relatif terjaga. Ia menggambarkan kondisi laut di wilayahnya masih “biru” dan alami dibandingkan sejumlah daerah lain yang telah mengalami penurunan kualitas lingkungan.
Bupati mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki, potensi stok sumber daya perikanan di Halmahera Selatan mencapai sekitar 140.000 ton, namun yang baru dimanfaatkan sekitar 59.000 ton. Hal ini menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan sektor perikanan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Selain itu, wilayah Halmahera Selatan yang terdiri dari sekitar 400 pulau dengan komposisi wilayah laut mencapai 70–80 persen, menjadi modal penting dalam mendorong pembangunan sektor kelautan berbasis keberlanjutan,” ucapnya.
Meski demikian, Bupati mengingatkan adanya tantangan kerusakan ekosistem pesisir yang mulai dirasakan masyarakat. Dari 249 desa yang ada, sekitar 90 persen berada di wilayah pesisir dan sebagian di antaranya mulai mengalami dampak naiknya permukaan air laut dan abrasi akibat rusaknya ekosistem pelindung alami.
“Beberapa tahun terakhir, banyak desa pesisir menghadapi persoalan yang sama, yakni naiknya permukaan air laut hingga masuk ke permukiman. Hal ini terjadi karena ekosistem pesisir seperti mangrove dan terumbu karang sudah mulai berkurang,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menyebabkan nelayan harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan, yang berdampak pada meningkatnya biaya operasional serta menurunnya produktivitas.
Karena itu, Bupati mengajak seluruh pihak untuk memiliki kesamaan pandangan dalam menjaga kekayaan alam sebagai aset bersama. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan ekosistem laut dan pesisir harus menjadi perhatian bersama demi kepentingan generasi mendatang.
“Kita harus memiliki kesadaran bahwa kekayaan ini adalah milik kita bersama yang harus dijaga. Jika tidak, maka kita sendiri yang akan merasakan dampaknya dan tidak meninggalkan apa-apa bagi generasi berikutnya,” tegasnya.
Kegiatan simposium ini menghadirkan Keynote Speaker (pembicara utama) Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, anggota Komisi IV DPR RI yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan pada periode 2001–2004. Beliau adalah Guru Besar di Institut Pertanian Bogor (IPB), serta Rektor UMMY Bogor.
Sementara narasumber yang turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Utara Fauzi Momole, S.Pi., Akademisi Universitas Khairun Ternate Dr. Irham H. Iksan, S.Pi., M.Si., Anggota DPRD Maluku Utara Nazlatan Ukhra Kasuba, B.Hs., M.Si., serta Project Leader eLSiL, Dr. Ir. Thamrin Ali Ibrahim.
Melalui simposium ini, diharapkan lahir gagasan dan rekomendasi strategis untuk memperkuat sinergi dalam pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan di Halmahera Selatan secara berkelanjutan melalui visi agromaritim. (RI/Red)














Tinggalkan Balasan