Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan: Memulai Indonesia Maju dari Keluarga
Setiap kali Merah Putih berkibar pada bulan Agustus, kita sesungguhnya sedang diajak untuk berhenti sejenak. Mengenang mereka yang telah berjuang merebut kemerdekaan, sekaligus bertanya kepada diri sendiri: setelah 81 tahun Indonesia merdeka, apa yang sudah kita lakukan untuk membuat kemerdekaan itu benar-benar dirasakan oleh generasi berikutnya?
Pertanyaan itu penting, sebab kemerdekaan tidak selesai ketika proklamasi dibacakan. Kemerdekaan justru menemukan maknanya dalam kehidupan sehari-hari: ketika seorang anak tumbuh sehat, ketika ia bisa bersekolah, ketika sebuah keluarga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, dan ketika setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menatap masa depan.
Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan yang panjang. Bangsa ini telah melewati berbagai ujian, perubahan zaman, krisis, dan tantangan pembangunan. Banyak capaian telah kita raih. Namun, perjalanan itu belum selesai.
Sebagai Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kota Ternate, saya melihat bahwa salah satu pekerjaan terbesar kita hari ini bukan sekadar membangun jalan, gedung, atau infrastruktur. Yang jauh lebih menentukan adalah membangun manusia yang akan menggunakan dan melanjutkan semua hasil pembangunan tersebut.
Sebab, gedung yang megah tidak akan banyak berarti jika generasi yang mengisinya tidak sehat. Infrastruktur yang baik tidak akan cukup jika anak-anak kita kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak. Pertumbuhan ekonomi pun belum sepenuhnya bermakna apabila masih ada keluarga yang tertinggal dan tidak mampu keluar dari berbagai persoalan sosial.
Karena itu, pembangunan keluarga harus ditempatkan sebagai salah satu fondasi utama pembangunan manusia.
Perjuangan yang Berubah Wajah
Para pahlawan bangsa dahulu menghadapi penjajahan dengan keberanian dan pengorbanan. Mereka mengangkat senjata, bergerilya, mempertaruhkan hidup, bahkan gugur demi satu cita-cita: Indonesia yang merdeka.
Hari ini kita tidak lagi menghadapi penjajah dalam bentuk yang sama. Tetapi bukan berarti perjuangan telah berakhir.
Musuh kita kini hadir dalam wajah yang berbeda: stunting, kemiskinan, ketimpangan pendidikan, pernikahan usia dini, rendahnya kualitas kesehatan, serta berbagai persoalan sosial yang dapat menghambat tumbuhnya generasi masa depan.
Perjuangan menghadapi persoalan-persoalan itu mungkin tidak terlihat heroik. Tidak ada suara tembakan. Tidak ada medan perang.
Namun, seorang ibu yang berjuang memastikan anaknya mendapatkan makanan bergizi, seorang ayah yang bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga, kader yang tanpa lelah mendampingi keluarga, tenaga kesehatan yang mendatangi masyarakat, dan pemerintah yang memastikan pelayanan berjalan—semuanya adalah bagian dari perjuangan membangun Indonesia.
Medannya berbeda. Tantangannya berbeda. Tetapi tujuannya sama: menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi generasi penerus.
Keluarga adalah Sekolah Pertama
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, keluarga tetap menjadi tempat pertama seorang anak belajar tentang kehidupan.
Di rumah, seorang anak pertama kali mengenal kasih sayang. Di rumah pula ia belajar disiplin, tanggung jawab, menghormati orang lain, mengenal agama, memahami nilai kebangsaan, dan membangun kepercayaan diri.
Karena itu, keluarga yang sehat dan harmonis bukan sekadar urusan privat. Ia merupakan bagian penting dari masa depan bangsa.
Kita tidak mungkin berbicara tentang Indonesia maju tanpa berbicara tentang keluarga yang berkualitas.
Anak-anak yang sehat akan memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh dan belajar. Anak yang mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang baik akan memiliki fondasi lebih kuat untuk menghadapi masa depan. Dari keluarga-keluarga seperti itulah kelak lahir tenaga profesional, pemimpin, pengusaha, akademisi, pekerja, dan warga negara yang membawa Indonesia bergerak lebih jauh.
Dengan demikian, membangun keluarga sejatinya adalah membangun Indonesia dari unit terkecilnya.
Ternate dan Tanggung Jawab Bersama
Di Kota Ternate, upaya membangun keluarga berkualitas terus dilakukan melalui penguatan ketahanan keluarga, peningkatan pelayanan keluarga berencana, percepatan penurunan stunting, serta pendampingan terhadap keluarga yang berada dalam kelompok rentan.
Semua itu tidak boleh dipandang sekadar sebagai program pemerintah. Di balik setiap angka stunting yang ingin kita turunkan, ada anak yang ingin kita selamatkan masa depannya.
Di balik setiap pelayanan keluarga berencana, ada keluarga yang sedang merencanakan kehidupan yang lebih baik.
Di balik pendampingan keluarga rentan, ada harapan agar tidak ada satu pun keluarga yang merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan hidup.
Karena itu, keberhasilan pembangunan keluarga membutuhkan kerja bersama.
Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Dunia usaha memiliki peran. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan. Organisasi masyarakat memiliki kekuatan sosial. Para kader berada dekat dengan masyarakat. Dan keluarga sendiri adalah aktor paling penting dalam seluruh proses tersebut.
Kolaborasi itulah yang menjadi modal sosial kita.
Kemerdekaan yang Harus Dirasakan
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka seharusnya tidak hanya kita rayakan dengan upacara, perlombaan, dan kibaran bendera.
Semua itu penting sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada sejarah. Tetapi kemerdekaan juga harus kita hadirkan dalam kehidupan nyata.
Kemerdekaan harus dirasakan seorang anak ketika ia tumbuh sehat dan memiliki kesempatan belajar.
Kemerdekaan harus dirasakan seorang ibu ketika ia memperoleh akses pelayanan kesehatan dan mampu merawat keluarganya dengan baik.
Kemerdekaan harus dirasakan sebuah keluarga ketika mereka memiliki kesempatan untuk hidup layak, mandiri, dan menatap masa depan tanpa kehilangan harapan.
Dan kemerdekaan harus tercermin dalam kemampuan kita melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian, integritas, dan kecintaan kepada bangsa.
Itulah makna kemerdekaan yang harus terus kita perjuangkan.
Dari Rumah, Kita Menentukan Masa Depan Indonesia
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan pemerintah di kantor-kantor pemerintahan.
Masa depan Indonesia juga sedang ditentukan setiap hari di rumah-rumah kita.
Di meja makan ketika orang tua memastikan anak mendapatkan makanan bergizi.
Di ruang belajar ketika seorang ibu mendampingi anak membaca.
Dalam percakapan sederhana ketika ayah dan ibu mengajarkan kejujuran.
Dalam keteladanan ketika orang tua menunjukkan bagaimana menghormati sesama.
Dari hal-hal kecil itulah karakter sebuah generasi dibentuk.
Maka, pada usia Republik Indonesia yang ke-81 ini, mari kita memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih dalam. Kita lanjutkan perjuangan para pendiri bangsa bukan dengan mengangkat senjata, tetapi dengan membangun manusia, memperkuat keluarga, menjaga kesehatan, meningkatkan pendidikan, dan memastikan tidak ada generasi yang kehilangan masa depannya.
Saya percaya, Indonesia yang maju tidak dibangun dalam satu malam. Ia dibangun dari jutaan keluarga yang setiap hari berusaha menjadi lebih baik.
Dan jika keluarga-keluarga Indonesia kuat, sehat, dan berkualitas, maka bangsa ini memiliki fondasi yang kokoh untuk melangkah menuju masa depan.
Atas nama Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Ternate, saya mengucapkan: Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia.
Mari kita jadikan momentum kemerdekaan ini sebagai energi untuk terus berkarya, mengabdi, dan berkontribusi.
Karena Indonesia yang besar selalu bermula dari keluarga yang kuat.
Merdeka!
Rajman Makka, SKM., M.Kes.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Ternate















Tinggalkan Balasan