DP3AKB Halsel: Cegah Stunting Dimulai Sejak Remaja, Bukan Saat Anak Lahir

Kepala Dinas DP3AKB Halsel, Karima Nasaruddin, S.Si., M.Kes. saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan sosialisasi GENTING dan GATI. (doc: Katasatu)

Katasatu – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Halmahera Selatan, Karima Nasaruddin, S.Si., M.Kes, menegaskan bahwa persoalan stunting tidak bisa dilihat semata sebagai masalah kesehatan, melainkan persoalan multidimensi yang dipengaruhi faktor sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Hal ini disampaikan Karima usai kegiatan sosialisasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) di Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan (Halsel), Selasa (5/5/2026).

Karima menjelaskan, dalam penanganan stunting terdapat dua jenis intervensi, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik yang berkaitan langsung dengan penanganan gizi hanya berkontribusi sekitar 30 persen, sementara 70 persen lainnya berasal dari intervensi sensitif.

“Intervensi sensitif ini mencakup akses air bersih, sanitasi, kondisi lingkungan, hingga edukasi keluarga. Jadi kalau lingkungan masih kotor, sanitasi buruk, dan akses air bersih terbatas, maka stunting akan sulit ditekan,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi lingkungan yang tidak sehat dapat memicu penyakit seperti diare akibat bakteri dan lalat, yang pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan anak.

Lebih lanjut, Karima menegaskan bahwa intervensi pencegahan stunting di Halmahera Selatan difokuskan sejak dini, bahkan sebelum seseorang menikah. Upaya tersebut dilakukan melalui pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri untuk mencegah anemia, serta edukasi dan pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin.

“Remaja putri wajib mengonsumsi tablet tambah darah agar tidak anemia. Karena jika seorang ibu anemia saat hamil, berisiko melahirkan anak stunting,” ujarnya.

Selain itu, calon pengantin juga diwajibkan mengikuti skrining kesehatan dan edukasi melalui program sertifikat layak menikah (Elsimil) sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.

Karima menekankan bahwa periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi fase paling krusial dalam menentukan kualitas tumbuh kembang anak, dimulai sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

“Kalau intervensi dilakukan setelah anak lahir, itu jauh lebih sulit. Maka pencegahan harus dimulai dari remaja, calon pengantin, hingga masa kehamilan dan menyusui,” tegasnya.

Dalam implementasinya, penanganan stunting melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melalui pendekatan konvergensi. Setiap OPD memiliki peran dan anggaran masing-masing, mulai dari Dinas Kesehatan, DP3AKB, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Kominfo, hingga Dinas PUPR.

Dinas Pendidikan, misalnya, berperan dalam program pemenuhan gizi bagi pelajar, sementara Dinas PUPR menangani penyediaan sanitasi seperti MCK. Dinas Pertanian mendukung ketahanan pangan, dan Kominfo bertugas menyebarluaskan edukasi kepada masyarakat.

“Ini kerja bersama. Tidak bisa hanya satu dinas. Semua harus terlibat karena intervensinya berbeda-beda,” jelasnya.

Karima juga menyoroti pentingnya pendekatan pentahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, media, dan sektor swasta dalam percepatan penurunan stunting.

“Media juga punya peran penting untuk menyampaikan edukasi dan mempublikasikan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah,” katanya.

Berdasarkan data, jumlah keluarga berisiko stunting di Halmahera Selatan menunjukkan tren penurunan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2024 sebanyak 8.180, namun pada tahun 2025 turun menjadi 6.323. Penurunan ini juga dinilai berkorelasi dengan menurunnya angka kemiskinan di Halmahera Selatan.

Dalam kesempatan itu, Karima juga menegaskan pentingnya peran ayah melalui program GATI. Menurutnya, selama ini peran ayah seringkali terbatas pada pencari nafkah, padahal keterlibatan dalam pengasuhan sangat penting.

“Ayah harus hadir mendampingi ibu sejak masa kehamilan hingga anak tumbuh. Ini penting untuk kesehatan ibu dan anak, sekaligus mencegah berbagai masalah sosial,” ujarnya.

Sementara itu, melalui program GENTING, pemerintah mendorong kepedulian sosial masyarakat untuk membantu keluarga berisiko stunting. Karima berharap, upaya penurunan stunting di Halmahera Selatan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

“Stunting ini bukan hanya soal anak pendek, tapi soal masa depan generasi. Kalau tidak ditangani serius, dampaknya panjang,” pungkasnya. (RI/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup