Kontribusi Nyata Buruh Perempuan, Saatnya Perlindungan Diperkuat

Katasatu – Buruh perempuan kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap dalam struktur ekonomi. Peran mereka telah bertransformasi menjadi kekuatan utama yang menopang kehidupan keluarga sekaligus mendorong roda perekonomian nasional. Di tingkat rumah tangga, perempuan memainkan peran strategis sebagai penyumbang utama pendapatan.

Meningkatnya kebutuhan hidup mendorong banyak perempuan untuk terjun ke dunia kerja, bahkan tidak sedikit yang menjadi tulang punggung keluarga. Fenomena ini tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, tetapi juga telah merambah hingga ke pedesaan.

“Perempuan hari ini bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi sudah menjadi pilar ekonomi keluarga,” tegas Sekretaris Britari Maluku Utara, Ratika David, Kamis (30/4/2026).

Secara lebih luas, Ratika menyebut, kontribusi buruh perempuan terlihat nyata di berbagai sektor produktif, mulai dari industri manufaktur hingga pertanian. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Dalam konteks ini, tenaga kerja perempuan bukan lagi alternatif, melainkan kebutuhan sistemik dalam pembangunan ekonomi nasional. Namun, di balik peran besar tersebut, buruh perempuan masih menghadapi beban berlapis,” ujarnya.

Kata dia, perempuan dituntut menjalankan peran ganda, yakni sebagai pekerja sekaligus pengelola rumah tangga. Tanggung jawab domestik seperti mengasuh anak dan mengurus keluarga tetap melekat, meskipun mereka aktif bekerja di sektor formal maupun informal.

“Di sisi lain, perempuan juga mulai menempati posisi sebagai subjek pembangunan. Keterlibatan mereka dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan program pembangunan, khususnya di tingkat desa, menunjukkan adanya pergeseran peran dari objek menjadi aktor utama pembangunan,” jelasnya.

Menurutnya, dunia usaha kerap memandang buruh perempuan sebagai tenaga kerja yang ulet, telaten, dan disiplin. Persepsi ini menjadikan perempuan sebagai pilihan utama di sejumlah sektor industri. Namun demikian, kondisi tersebut juga sering kali beririsan dengan persoalan klasik, seperti rendahnya upah dan belum optimalnya perlindungan kerja.

“Lebih jauh perempuan juga berperan sebagai agen perubahan di tingkat komunitas. Mereka aktif dalam memimpin organisasi masyarakat, menggerakkan kegiatan sosial, serta menjadi penghubung dalam berbagai program pemberdayaan,” tambahnya.

Ratika David juga menyoroti persoalan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang dinilai masih menyisakan sejumlah persoalan krusial, terutama terkait dampaknya terhadap tenaga kerja dan keberlanjutan ekonomi daerah.

“Kebijakan yang lebih berpihak pada pekerja sangat dibutuhkan, termasuk buruh perempuan, agar tidak hanya menjadi objek produksi, tetapi juga memperoleh perlindungan serta kesejahteraan yang layak,” pungkasnya.

Kondisi ini menegaskan bahwa buruh perempuan berada di garis depan pembangunan. Namun, berbagai tantangan struktural yang mereka hadapi membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan para pemangku kebijakan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup