Bupati Cup Halsel 2026, PWI Minta Seleksi Tim Kecamatan Transparan

Sekretaris Seksi Olahraga PWI Halsel.(doc: istimewa)

Katasatu – Bupati Cup Halmahera Selatan (Halsel) 2026 mengubah format kompetisi dari kesebelasan desa menjadi antarkecamatan dengan skema satu kecamatan satu tim.

Dalam format baru ini, setiap kecamatan melakukan seleksi pemain dari desa-desa untuk membentuk satu skuad yang akan tampil di tingkat kabupaten. Pemain dari desa yang gagal lolos tetap berpeluang dipanggil memperkuat tim kecamatan.

Perubahan format tersebut mendapat perhatian Sekretaris Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Halsel, Mursal Bahtiar. Ia menilai format baru berpotensi meningkatkan kualitas kompetisi, tetapi aturan seleksi harus disiapkan secara jelas dan transparan.

“Format baru ini bagus kalau tujuannya mencari pemain terbaik. Tapi aturan seleksinya harus jelas. Siapa yang memilih, apa ukurannya, dan bagaimana status pemain harus selesai sebelum pertandingan dimulai,” kata Mursal.

Menurutnya, tanpa standar seleksi yang sama, pembentukan tim kecamatan berpotensi menimbulkan persoalan, mulai dari pemain titipan hingga dominasi satu desa.

“Kalau membawa nama kecamatan, semua pemain terbaik harus punya peluang yang sama. Jangan sampai tim kecamatan hanya dikuasai satu desa atau kelompok tertentu,” ujarnya.

Format 2026 berbeda dengan Bupati Cup 2025 yang menggunakan sistem zona dengan klub-klub desa sebagai peserta. Tim terbaik dari masing-masing zona kemudian melaju ke putaran kabupaten.

Mursal menilai format baru justru dapat membuka peluang lebih besar bagi pemain potensial yang sebelumnya tersingkir bersama tim desanya.

Namun, ia mengingatkan keberhasilan Bupati Cup tidak boleh hanya diukur dari juara, hadiah, atau kemeriahan pertandingan. Dampak terhadap pembinaan pemain harus menjadi ukuran utama.

“Setiap tahun pasti ada juara, ada bonus dan ada pemain terbaik. Tapi setelah turnamen selesai, pemainnya ke mana? Berapa yang naik ke level lebih tinggi? Itu yang harus mulai dihitung,” katanya.

Ia mendorong pemain terbaik, pencetak gol terbanyak dan talenta muda yang muncul dari Bupati Cup masuk dalam database pembinaan. Mereka selanjutnya perlu mendapat akses pelatihan, seleksi, trial hingga kompetisi yang lebih tinggi.

Mursal juga menyinggung rencana perekrutan pemain muda dari Bupati Cup 2022 untuk memperkuat Persihalsel. Menurutnya, program tersebut perlu dievaluasi dan hasilnya disampaikan secara terbuka.

“Kalau memang pernah ada pemain yang direkrut, buka hasilnya. Berapa yang dibina, berapa yang berkembang dan berapa yang akhirnya bermain di level lebih tinggi,” tegasnya.

Di sisi lain, Mursal meminta Dispora Halsel transparan mengenai anggaran Bupati Cup 2026, terlebih turnamen berlangsung di tengah kebijakan efisiensi anggaran daerah.

“Kalau anggarannya besar, hasilnya juga harus kelihatan. Uang jangan selesai ketika final selesai. Harus ada pembinaan yang tetap berjalan setelah turnamen,” ujarnya.

Menurut Mursal, format satu kecamatan satu tim dapat menjadi momentum memperbaiki arah Bupati Cup. Namun, perubahan tersebut harus disertai aturan seleksi yang jelas, anggaran yang terukur, serta program pembinaan berkelanjutan.

“Kalau Bupati Cup mau naik kelas, aturannya harus jelas, anggarannya harus punya hasil dan pemainnya harus punya masa depan. Jangan setiap tahun hanya melahirkan juara, tapi tidak melahirkan pemain yang bisa bermain di level lebih tinggi,” pungkasnya. (RI/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup