Antara Madilog dan Ihya: Ketika Tan Malaka Mengkritik Kemalasan dan Al-Ghazali Menegaskan Ikhtiar

-Sebuah Dialog Filsafat tentang Usaha Manusia, Kehendak Tuhan, dan Masa Depan Bangsa-

Tan Malaka dan Al-Ghazali lahir dari ruang sejarah yang berbeda, namun keduanya berbicara mengenai persoalan yang tetap relevan hingga kini, yakni bagaimana manusia memandang usaha dan perubahan. Keduanya menolak sikap pasif yang membuat manusia menyerahkan hidup sepenuhnya kepada nasib. Perbedaan mereka terletak pada fondasi filosofis yang digunakan untuk menjelaskan tindakan manusia.

Dalam Madilog, Tan Malaka mengembangkan cara berpikir yang menempatkan logika dan pengalaman empiris sebagai alat utama memahami realitas. Ia melihat kemajuan masyarakat hanya mungkin tercapai jika manusia berani berpikir kritis, menguji keyakinan melalui kenyataan, dan membangun tindakan berdasarkan analisis rasional. Kemajuan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan yang sadar dan terorganisasi.

Tan Malaka mengkritik kecenderungan sebagian masyarakat yang berharap perubahan terjadi tanpa usaha yang memadai. Menurutnya, keyakinan bahwa persoalan hidup dapat selesai hanya dengan permohonan spiritual tanpa kerja nyata telah melahirkan budaya menunggu. Budaya semacam ini dianggap berbahaya karena melemahkan daya kreatif, keberanian, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bersama.

Bagi Tan Malaka, hukum sebab akibat merupakan dasar memahami dunia. Kemiskinan tidak hilang karena harapan, keterbelakangan tidak lenyap karena doa semata, dan penjajahan tidak runtuh karena keinginan yang pasif. Semua perubahan menuntut tindakan yang terukur. Karena itu, ia menempatkan kerja, ilmu pengetahuan, dan organisasi sebagai instrumen utama pembebasan masyarakat.

Di sisi lain, Al-Ghazali membangun pemikiran yang berangkat dari keyakinan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki tanggung jawab moral di hadapan Tuhan. Dalam berbagai karyanya, terutama Ihya Ulumuddin, ia menegaskan bahwa manusia diwajibkan berusaha. Keberhasilan tidak mungkin dicapai tanpa ikhtiar yang sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas kehidupan.

Al-Ghazali menolak pandangan yang menganggap tawakal sebagai alasan untuk meninggalkan usaha. Menurutnya, orang yang enggan bekerja tetapi berharap hasil merupakan bentuk kesalahan dalam memahami agama. Tawakal bukan kemalasan yang dibungkus kesalehan, melainkan kesadaran bahwa manusia harus menempuh sebab-sebab yang tersedia sebelum menyerahkan hasil kepada kehendak Tuhan.

Dalam penjelasannya mengenai ikhtiar, Al-Ghazali menggunakan contoh sederhana yang mudah dipahami. Seseorang yang lapar wajib mencari makanan, petani harus mengolah tanah sebelum panen, dan pedagang harus berdagang sebelum memperoleh keuntungan. Doa tidak menggantikan tindakan tersebut. Doa justru menyertai usaha sebagai bentuk pengakuan atas keterbatasan manusia.

Jika dicermati secara mendalam, kritik Tan Malaka sebenarnya tidak ditujukan kepada ajaran Islam secara keseluruhan. Kritiknya lebih banyak diarahkan kepada praktik sosial yang menjadikan agama sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab. Sasaran utamanya adalah mentalitas fatalistik yang menganggap kehidupan bergerak tanpa perlu campur tangan aktif dari manusia sendiri.

Dalam titik tertentu, kritik tersebut memiliki kedekatan dengan pandangan Al-Ghazali. Keduanya sama-sama menolak kemalasan yang memperoleh legitimasi moral. Al-Ghazali menganggap kemalasan sebagai penyakit jiwa yang menghambat kesempurnaan manusia. Tan Malaka melihat kemalasan sebagai hambatan historis yang menghalangi masyarakat mencapai kemajuan politik, ekonomi, dan intelektual yang lebih baik.

Perbedaan mendasar muncul ketika membahas sumber kekuatan perubahan. Tan Malaka percaya bahwa perubahan berasal dari kesadaran manusia yang mampu memahami realitas melalui akal. Al-Ghazali mengakui pentingnya akal, namun menempatkannya dalam hubungan dengan wahyu dan kehendak Tuhan. Akal berfungsi sebagai alat, sedangkan Tuhan tetap menjadi sumber keberadaan seluruh sebab.

Bagi Tan Malaka, terlalu bergantung pada kekuatan di luar manusia berpotensi melahirkan sikap pasrah yang merugikan. Ia khawatir masyarakat kehilangan keberanian untuk mengubah keadaan jika seluruh persoalan diserahkan kepada faktor metafisik. Kekhawatiran ini lahir dari pengamatannya terhadap masyarakat kolonial yang sering terjebak dalam pola pikir menunggu pertolongan.

Sebaliknya, Al-Ghazali melihat bahaya lain yang tidak kalah besar. Ia mengingatkan bahwa manusia dapat terjebak dalam kesombongan ketika menganggap seluruh keberhasilan berasal dari dirinya sendiri. Kesombongan semacam itu membuat manusia lupa bahwa kemampuan berpikir, kesehatan, dan kesempatan bertindak juga merupakan bagian dari anugerah yang tidak sepenuhnya dikuasai individu.

Karena itu, Al-Ghazali berusaha menciptakan keseimbangan antara usaha dan ketergantungan spiritual. Dalam kerangka ini, manusia diwajibkan bekerja sekeras mungkin, tetapi tidak diperkenankan menganggap dirinya sebagai penguasa mutlak atas hasil yang diperoleh. Keseimbangan tersebut menjaga manusia dari dua ekstrem, yakni kemalasan dan kesombongan yang sama-sama merusak.

Dialog antara Tan Malaka dan Al-Ghazali menjadi menarik ketika diterapkan pada persoalan bangsa. Banyak masalah nasional muncul karena budaya instan yang ingin memperoleh hasil besar tanpa proses panjang. Dalam situasi seperti ini, kritik Tan Malaka terhadap mentalitas menunggu menjadi relevan untuk membangun etos kerja dan kesadaran kolektif yang lebih kuat.

Namun pembangunan bangsa juga membutuhkan dimensi moral yang sering ditekankan Al-Ghazali. Kemajuan ekonomi tanpa integritas dapat melahirkan korupsi. Kemajuan teknologi tanpa kebijaksanaan dapat menghasilkan ketimpangan sosial. Karena itu, usaha yang produktif perlu disertai kesadaran etis agar kemajuan tidak berubah menjadi alat eksploitasi terhadap sesama manusia.

Di tengah perkembangan modern, masyarakat sering terjebak dalam dua kutub. Sebagian mengandalkan doa tanpa kerja yang memadai, sementara sebagian lain mengagungkan kemampuan manusia hingga mengabaikan nilai spiritual. Kedua kecenderungan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang diperdebatkan Tan Malaka dan Al-Ghazali belum kehilangan relevansinya dalam kehidupan kontemporer.

Pemikiran Tan Malaka mengajarkan bahwa perubahan memerlukan keberanian berpikir dan bertindak. Tidak ada masyarakat yang maju hanya karena mengandalkan harapan. Setiap kemajuan lahir dari disiplin, organisasi, pengetahuan, dan kerja keras. Pesan ini penting bagi bangsa yang masih menghadapi tantangan dalam pendidikan, ekonomi, dan penguatan institusi publik.

Sementara itu, Al-Ghazali mengingatkan bahwa kerja keras tanpa orientasi moral dapat kehilangan arah. Keberhasilan yang tidak dibarengi kebijaksanaan sering menghasilkan kerusakan baru. Oleh sebab itu, ikhtiar harus disertai kesadaran spiritual agar manusia tidak sekadar mengejar keberhasilan material, tetapi juga membangun kehidupan yang bermakna dan berkeadilan.

Apabila kedua pemikiran tersebut dibaca secara terbuka, tampak bahwa keduanya tidak selalu berada dalam posisi yang saling menegasikan. Tan Malaka mengoreksi kecenderungan pasif yang melemahkan masyarakat, sedangkan Al-Ghazali mengoreksi kecenderungan manusia untuk melupakan dimensi transenden. Keduanya memberikan kritik terhadap kelemahan yang berbeda tetapi sama pentingnya untuk dipahami.

Masa depan bangsa memerlukan sintesis antara etos perjuangan yang ditekankan Tan Malaka dan etika ikhtiar yang diajarkan Al-Ghazali. Bangsa yang hanya menunggu tidak akan bergerak, sementara bangsa yang bergerak tanpa landasan moral mudah kehilangan arah. Melalui perpaduan kerja keras, akal sehat, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual, masyarakat dapat membangun peradaban yang lebih kuat, adil, serta bermartabat.***

Aburizal Kamarullah
(Penggiat Literasi & Inisiator Forest Wacth Malut)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup